KUPANG, 16 Oktober 2026 – Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Kupang menyelenggarakan Seminar Nasional pada Jumat, 16 Oktober 2026, secara daring melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini mengangkat tema “Healthy Provider, Safety Patient: Kesehatan Mental Tenaga Kesehatan Gigi sebagai Fondasi Pelayanan Asuhan Kesehatan Gigi yang Aman, Empatik, dan Berkualitas.”
Seminar nasional ini bertujuan meningkatkan pemahaman tenaga kesehatan gigi dan peserta mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental dalam menjalankan pelayanan asuhan kesehatan gigi. Kesehatan mental tenaga kesehatan merupakan salah satu aspek yang perlu diperhatikan karena berkaitan dengan kemampuan mengelola tekanan kerja, membangun komunikasi yang efektif, serta memberikan pelayanan yang aman dan berorientasi pada kebutuhan pasien.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Wakil Direktur III Poltekkes Kemenkes Kupang, Margareta Teli, S.Kep., Ns., M.Sc., PH., Ph.D. Dalam pembukaan tersebut, seminar menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran mengenai pentingnya keseimbangan antara kesejahteraan tenaga kesehatan dan mutu pelayanan kepada pasien.
Seminar ini menghadirkan dua narasumber yang membahas aspek kesehatan mental dan keterampilan komunikasi dalam pelayanan kesehatan gigi. Narasumber pertama, Dr. drg. A.A. Kompiang Martini, M. Biomed., menyampaikan materi berjudul “Pengelolaan Sumber Stres pada Pelayanan Asuhan Kesehatan Gigi.” Materi ini membahas pentingnya mengenali sumber stres dalam lingkungan pelayanan serta memahami upaya pengelolaan stres agar tenaga kesehatan gigi dapat menjalankan tugas secara profesional, tenang, dan optimal.
Narasumber kedua, drg. Alfini Octavia, Sp. KGA., Ph.D., membawakan materi “Teknik Komunikasi Efektif terhadap Pasien Nonkooperatif dalam Pelayanan Kesehatan.” Pembahasan ini menekankan pentingnya pendekatan komunikasi yang tepat, empatik, dan sesuai dengan kondisi pasien, khususnya ketika menghadapi pasien yang mengalami kecemasan, menunjukkan penolakan, atau mengalami kesulitan untuk bekerja sama selama tindakan pelayanan kesehatan.
Kedua materi tersebut saling melengkapi dalam memberikan perspektif mengenai tantangan pelayanan kesehatan gigi. Kemampuan tenaga kesehatan dalam mengelola stres perlu didukung oleh keterampilan komunikasi interpersonal yang baik agar interaksi dengan pasien dapat berlangsung secara lebih nyaman, aman, dan efektif. Pendekatan yang empatik juga diharapkan dapat membantu membangun kepercayaan pasien serta mendukung pelaksanaan pelayanan yang berpusat pada pasien.
Melalui seminar nasional ini, Jurusan Kesehatan Gigi Poltekkes Kemenkes Kupang menegaskan pentingnya penguatan kompetensi profesional yang tidak hanya berfokus pada keterampilan klinis, tetapi juga pada kesehatan mental, pengendalian stres, dan kemampuan komunikasi. Hal tersebut menjadi bagian penting dalam membangun budaya pelayanan kesehatan gigi yang mengutamakan keselamatan pasien sekaligus memperhatikan kesejahteraan tenaga kesehatan.
Penyelenggaraan kegiatan ini diharapkan dapat memperluas wawasan peserta dan mendorong penerapan prinsip Healthy Provider, Safety Patient dalam praktik pelayanan sehari-hari. Dengan tenaga kesehatan yang mampu menjaga kesehatan mental dan berkomunikasi secara efektif, pelayanan asuhan kesehatan gigi diharapkan semakin aman, empatik, dan berkualitas bagi masyarakat.